<p data-end="669" data-start="102"><strong data-end="115" data-start="102">Mangupura</strong> – Di tengah perkembangan dunia pendidikan yang semakin dinamis, ukuran keberhasilan peserta didik tidak lagi hanya ditentukan oleh nilai rapor atau peringkat di kelas. Karakter, kemampuan beradaptasi, kemauan untuk terus belajar, serta keterampilan sosial kini menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan seseorang di masa depan. Pemikiran tersebut menjadi salah satu bahasan menarik dalam <strong data-end="546" data-start="514">Majalah Langkah Baru Edisi 5</strong> yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Badung melalui rubrik <em data-end="668" data-start="656">Opini Guru</em>.</p> <p data-end="1169" data-start="671">Artikel berjudul <strong data-end="733" data-start="688">"Karakter Lebih Penting daripada Ranking"</strong> mengajak masyarakat untuk melihat kembali makna prestasi di dunia pendidikan. Selama ini, masih banyak anggapan bahwa menjadi peringkat pertama merupakan satu-satunya tolok ukur keberhasilan seorang siswa. Di sisi lain, muncul pula pandangan yang menyatakan bahwa ranking tidak lagi penting karena banyak kisah individu yang saat sekolah berprestasi tinggi, namun tidak selalu menjadi yang paling sukses dalam kehidupan setelah dewasa.</p> <p data-end="1628" data-start="1171">Fenomena tersebut kemudian memunculkan pertanyaan, apakah ranking benar-benar tidak penting? Artikel ini mengajak pembaca untuk tidak terjebak pada dua pandangan yang saling bertolak belakang. Ranking bukanlah tujuan akhir pendidikan, tetapi juga bukan sesuatu yang harus diabaikan. Nilai akademik tetap memiliki fungsi sebagai indikator capaian belajar siswa, sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi guru dan sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.</p> <p data-end="2100" data-start="1630">Dalam artikel tersebut juga disampaikan sebuah ungkapan yang cukup akrab di tengah masyarakat Bali, <em data-end="1795" data-start="1730">"De be melajah bes aeng, maan rangking masi sing kel dadi ape."</em> Kalimat tersebut sering kali muncul sebagai bentuk nasihat agar anak tidak terlalu terbebani oleh tuntutan akademik. Namun, apabila dipahami secara keliru, pandangan tersebut berpotensi menurunkan semangat belajar peserta didik karena menganggap usaha dan proses belajar tidak lagi memiliki arti penting.</p> <p data-end="2542" data-start="2102">Melalui tulisan ini, pembaca diajak memahami bahwa yang perlu diubah bukanlah semangat untuk belajar, melainkan cara memandang keberhasilan. Prestasi akademik tetap perlu dihargai sebagai hasil dari proses belajar yang disiplin dan konsisten. Namun demikian, pendidikan juga harus mampu membentuk karakter, integritas, kreativitas, kemampuan bekerja sama, serta daya juang yang akan menjadi bekal utama dalam menghadapi tantangan kehidupan.</p> <p data-end="3116" data-start="2544">Artikel tersebut turut mengangkat pandangan psikolog sekaligus penulis buku <em data-end="2629" data-start="2620">Mindset</em>, <strong data-end="2656" data-start="2631">Carol S. Dweck, Ph.D.</strong>, yang selama puluhan tahun meneliti perkembangan pola pikir manusia. Menurutnya, hasil tes dan capaian akademik hanya menunjukkan posisi seorang siswa pada saat ini, tetapi tidak dapat sepenuhnya menggambarkan sejauh mana potensi seseorang untuk berkembang di masa depan. Dengan kata lain, setiap peserta didik memiliki peluang yang sama untuk terus bertumbuh apabila memiliki kemauan belajar, pola pikir berkembang (<em data-end="3090" data-start="3074">growth mindset</em>), dan karakter yang kuat.</p> <p data-end="3544" data-start="3118">Konsep tersebut sejalan dengan arah kebijakan pendidikan yang saat ini terus dikembangkan, yaitu menciptakan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kompetensi peserta didik secara utuh. Sekolah diharapkan menjadi ruang yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, kepedulian sosial, kreativitas, serta semangat belajar sepanjang hayat.</p> <p data-end="4221" data-is-last-node="" data-is-only-node="" data-start="3546">Disdikpora Kabupaten Badung terus berkomitmen menghadirkan berbagai inovasi pendidikan yang berpusat pada peserta didik. Melalui berbagai program penguatan karakter, literasi, numerasi, pembelajaran mendalam (<em data-end="3770" data-start="3755">deep learning</em>), hingga penerbitan <strong data-end="3815" data-start="3791">Majalah Langkah Baru</strong>, diharapkan lahir generasi muda Badung yang tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, berintegritas, adaptif, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Sebab pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari angka di rapor, melainkan dari kemampuan peserta didik untuk terus belajar, bertumbuh, serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungannya.</p>
Karakter Lebih Penting daripada Ranking: Membangun Generasi Berprestasi Sekaligus Berkarakter
26 Jul 2026