<p><strong>Mangupura —</strong> Mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari kekerasan menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang peserta didik secara optimal. Komitmen tersebut terus diperkuat oleh Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Badung melalui berbagai upaya peningkatan kapasitas pendidik dan penguatan layanan pendidikan yang berpihak pada kebutuhan setiap anak.</p> <p>Salah satu langkah tersebut diwujudkan melalui kegiatan <strong>Pengembangan Karier Pendidik melalui Workshop Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan SMP</strong>, yang berlangsung pada <strong>15–17 September 2026</strong>. Kegiatan dibuka secara resmi oleh <strong>Kepala Bidang Pembinaan SMP, Dewa Nyoman Subadra, S.E., M.M.</strong>, dan diikuti oleh <strong>80 peserta</strong> yang terdiri atas Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan serta Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMP se-Kabupaten Badung.</p> <p>Workshop ini menjadi ruang penguatan kompetensi bagi pendidik dalam mengenali, mencegah, serta menangani berbagai potensi kekerasan yang dapat terjadi di lingkungan satuan pendidikan. Peserta mendapatkan pembekalan mengenai deteksi dini, langkah pencegahan, serta pendekatan penanganan yang mengedepankan perlindungan dan kepentingan terbaik bagi peserta didik.</p> <p>Dalam pelaksanaannya, kegiatan juga melibatkan <strong>SAPA Inklusi</strong>, layanan pendampingan dan dukungan yang dihadirkan Disdikpora Kabupaten Badung untuk memperkuat penyelenggaraan pendidikan inklusif yang setara dan berkeadilan bagi <strong>Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK)</strong>. Keterlibatan SAPA Inklusi menjadi bagian penting dalam memperluas perspektif mengenai perlindungan peserta didik, khususnya dalam memastikan bahwa lingkungan sekolah dapat memberikan rasa aman bagi seluruh anak tanpa terkecuali.</p> <p>SAPA Inklusi tidak hanya berorientasi pada pendampingan, tetapi juga mendukung proses asesmen dan pemahaman terhadap kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus. Melalui pendekatan tersebut, sekolah diharapkan semakin mampu memberikan layanan yang sesuai dengan karakteristik dan potensi masing-masing peserta didik.</p> <p>Penguatan pendidikan inklusif juga membutuhkan kolaborasi dari berbagai unsur. Oleh karena itu, SAPA Inklusi mendorong terbangunnya sinergi antara sekolah, orang tua, serta Unit Layanan Disabilitas (ULD) dalam memberikan pendampingan dan dukungan kepada PDBK. Kolaborasi tersebut menjadi salah satu fondasi dalam membangun ekosistem pendidikan yang responsif, ramah, dan bebas dari diskriminasi.</p> <p>Kehadiran SAPA Inklusi dalam workshop ini sekaligus memperkuat pemahaman bahwa upaya pencegahan dan penanganan kekerasan perlu dilaksanakan dengan memperhatikan keberagaman kondisi dan kebutuhan peserta didik. Setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan, kesempatan belajar, serta lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan dirinya.</p> <p>Selain meningkatkan kompetensi Waka Kesiswaan dan Guru BK, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat koordinasi di lingkungan satuan pendidikan. Pencegahan kekerasan membutuhkan keterlibatan bersama antara sekolah, peserta didik, orang tua, dan masyarakat. Dengan komunikasi dan kolaborasi yang baik, berbagai potensi permasalahan dapat dikenali lebih awal dan ditangani melalui langkah yang tepat.</p> <p>Melalui kegiatan pengembangan karier pendidik dan penguatan layanan SAPA Inklusi, Disdikpora Kabupaten Badung terus mendorong terwujudnya satuan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga memberikan perhatian terhadap keamanan, kenyamanan, keberagaman, dan kesejahteraan peserta didik.</p> <p>Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat budaya sekolah yang <strong>aman, ramah anak, inklusif, humanis, dan bebas dari diskriminasi maupun kekerasan</strong>, sehingga seluruh peserta didik, termasuk PDBK, memiliki ruang yang setara untuk belajar, berkembang, dan menunjukkan potensi terbaiknya.</p>
Disdikpora Badung Perkuat Kompetensi Waka Kesiswaan dan Guru BK Cegah Kekerasan di Sekolah
18 Sep 2026